Thursday, May 19, 2011

Caligo (Prologue)

Caligo means 'mist' atau kabut dalam bahasa Indonesia. Caligo sendiri adalah bahasa Latin.
******************************
PROLOGUE : SCARS
Let's drift to the dark midnight sea
Tears and scars, everything mixes together
And you, of pretense,
fall into darkness... *
"WOOYYYY....!!!!" Seorang pemuda duduk di sofanya dan berteriak kencang sekali, hingga stok oksigen di paru-parunya langsung terbuang habis. Dengan gampangnya, dia langsung tersengal. Sedangkan yang dipanggil 'woy' ternyata lagi di dapur, membuat segelas teh chrysanthemum. Kenzie atau 'woy' tadi cuma manggut-manggut nggak jelas. Hal-hal seperti ini memang sudah biasa baginya. Makanan sehari-harinya, nafas hidupnya.

"Eeeggghhhh...." Ken mendengus kesal ketika mendengar teriakan 'woy' itu lagi dan lagi. "Tunggu napa sih?! Nyebelin banget," Ken menggerutu, sekali-kali mengumpat. Dia tahu, cowok itu lagi di bawah pengaruh alkohol. Mabuk beratttt. Akhirnya selesai. Wanginya menghangatkan hati, sekaligus membuat kacamata Kenzie jadi berembun ketika Ken menghirup aroma teh itu.

"LO PUNYA KUPING NGGA SIH????"
"IYA, IYA, IYA!!!!" Emosi Ken tersulut juga. Ngancurin mood hati aja. Ken bergegas keluar dari dapur dan membawa gelas tehnya. Dan ya, memang, pemuda yang teriak-teriak tadi emang lagi mabok banget. Tiduran di sofa lusuh bernuansa teal.

"Mana cewek gue?" tanya pemuda itu, bangkit dan duduk bersandar dengan mata yang nggak fokus. Bau alkohol menyeruak ke dalam ruangan itu. Kenzie mengernyit dan meringis mencium bau alkoohol yang begitu tajam. Ken menaruh teh hangat itu di atas meja. 
" MANA CEWEK GUE?"
"SIAPA???!!!!" Ken ikut-ikutan berteriak. Pemuda itu--kakaknya sendiri--entah kakak kandungnya atau nggak, malah tertawa-tawa gila.

"Hahahaha.... STUPID... Masa elo nggak tau cewek gue? Hahaha... hahaha..." James--namanya, tetap tertawa-tawa. Tawa miris. Tawa lemah. Ken diem aja. Dia malah menyeruput tehnya dengan tenang, seakan-akan nggak terjadi apa-apa. Seakan masa lalunya dan sekarang senang-senang aja. Seakan nothing happens.

"Arabelle..." gumam James nggak jelas. "Arabelle... Arabelle... Hahaha..."
"Arabelle?" tanya Ken bingung. Arabelle? Siapa lagi itu? Halah. Ngapain cowok bejat kayak gitu dipikirin?
"Yeah.... Hahahaha... hahaha... Arabelle... You... sexy b***.... hahaha..."
Hhhh... Lagi-lagi tidur sama cewek... ML. Malesin banget...
"Napa sih, nggak setia sama satu cewek? " tanya Ken sambil duduk di hadapan kakaknya yang mabuk itu.

"Hahaha... STUPID.... We're in Sydney, man... Sydney..." Ia tertawa sejenak, "where there's bunch of sexy women... Sadar dong..."

"Aaaahhhh.... pusing gue!!!!! Lo ngabisin duit mom cuman buat begini?" Ken mulai frustasi menghadapi kakaknya yang amit-amit ini.

"Just shut up you shit! Hahaha... Arabelle... Arabelle..." ucap James, penuh nafsu. Gila, pikir Ken. Gila... gila... gila... Kenapa gue harus hidup di dunia begini....

Dunia penuh kegilaan nafsu.
Dunia penuh kebohongan.
With closed eyes, what are you yearning for?
Even if you tried to collect your broken pieces...
Dunia penuh rahasia. Dunia dengan kenyataan yang tidak bisa dimengerti. Kenyataan hidup dapat sekeras ini. "MANA CEWEK GUE?" teriak James, lebih keras daripada yang sebelumnya.

"GUE NGGAK TAHU--PERSETANN!!!!" Nafas Ken tersengal, tangannya mengepal keras. Semua beban sudah ditanggung olehnya. Bertumpuk seperti sampah di hati. Bahkan membusuk, membekas... 
The intertwining hatred fill the cup...
Gue benci... gue benci... BENCI!!!! Refleks, Ken mendaratkan tinjunya ke meja. Biru lebam. Sakit. Kenzie jadi kehilangan semua. Harga diri, kepercayaan, cinta, kebahagiaan, mimpi, sahabat...
The wind becomes a storm
And infuriates the waves...

"Sialan lo James!" Emosi Kenzie hampir meledak...
Lalu Ken keluar, berusaha mencari udara segar.
Ah, tapi sayang, langit diwarnai warna abu-abu.

Senza amore, la verita non si vede...
[without love, you don't see the truth]
****
Bandung, 23.02 WIB, 6 bulan yang lalu
HP Kenzie bergetar. Memang, cowok itu mengatur HP-nya jadi vibrate mode. Ken masih tidur, tapi agak terganggu dengan getaran HP yang ditaruh di sebelahnya. HP itu bergetar lagi, lagi, dan lagi. Ken menggumam dan menggerutu nggak jelas. Akhirnya dia melihat layar handphone-nya, dan membelalak. Unknown number. Tapi nampaknya, telepon rumah.

"Halo..."
"Halo... Ken... A... Alenia... Alenia..." sebuah suara yang sangat familier berkata dengan terbata-bata, diselingi sesenggukan. Tangis. Ada suatu firasat yang tidak enak menyelip ke dalam hatinya. Jantungnya berdentum hebat. Ini suara Ibunya Alenia, batin Ken--gelisah. Sekarang, hal buruk apalagi yang terjadi? Setelah semua kejadian pahit yang sudah berlalu... Seberapa banyak lagi garam yang akan ditabur di atas luka?

"Tante...? Kenapa? Alen... kenapa?"
"Dia... dia bunuh diri... dia..."
Kesadaran Ken seakan-akan hilang, rahangnya mengeras untuk memastikan semua ini bohong.

"Bohong... Nggak mungkin... Kemarin dia baik... Kemarin dia baik-baik saja kok..."

Kemarin, Alenia-nya masih tersenyum. Masih ketawa cekikikan. Masih membuat hatinya hangat, sehangat teh chrysanthemum yang sering dibuatnya.

"Benar... dia bunuh diri... Saya ketemu mayatnya di kamar.... Kenapa???" Ternyata benar, bukan mimpi. Alenia bunuh diri. Kenapa? Kenapa dia harus seperti ini? Apa salahnya...? Alenia yang dia kenal itu lembut, baik hati... Bahkan kata-katanya masih terngiang-ngiang dalam telinganya.

"Iya, Ken. Orang bisa bunuh diri, karena merasa udah nggak ada semangat hidup. Nggak ada pegangan dan alasan untuk hidup..."

Al? Lo kenapa? Lo udah nggak punya semangat lagi buat hidup? Lo... kenapa? Apa salah gue? APA SALAH GUE? Jawab gue, Al... Jawab gue...

Tell me if you're in any pain, tell me if you're feeling lonely
No matter what, I'll always find you someplace
Don't leave me like this, please, I beg you...
Don't go...
*****
Kembali ke sekarang, Sydney.
"Eh, Ken, kita bakal balik ke Bandung. Gue udah siapin semuanya." James dalam balutan baju tebal turtle-neck keluar dari dapur setelah selesai menyeduh kopinya. Kenzie, yang sedang makan sereal sambil nonton serial Blue's Clues itu langsung tersedak. James tertawa ngejek sambil mencibir.

"Cih," ujarnya dengan nada dan tatapan merendahkan, "jadi cowok kok gampang keselek,"

Dengan nada sinis, Ken menyahut, "Cih, udah gede, demennya mabok-mabokan trus tidur sama cewek." Monohok banget. Ken menyuap lagi, tapi.... BUUGGGHHH!!!!

"Heh, lo nggak.... LO NGGAK TAU APA-APA TENTANG GUE!!! SOTOI LO!!!" Ternyata, James meninju tepat di pipi, membuat Kenzie memegangi pipinya yang biru. Ternyata, pukulan itu sangat keras hingga darah mengalir di gigi Ken sedikit. 

"Sialan...." Ken merutuk, ingin meninju balik. Tapi rasa benci, kecewa, sedih, dan kasihan terlalu dominan dalam hatinya. Mengekang dan mengontrol hati dan pikiran. Seperti cara pikir cewek, memang, tapi memang begitu kenyataannya. Kadang, di titik tertentu, di puncak perasaan tertentu, dia akan menjadi sentimentalis. Jadi, membiarkan imajinasi dan kenyataan melebur jadi satu. Nggak ada batas antara ruang imajinasi dan ruang kenyataan. Melepaskan semuanya. Tanpa sensor.

Ken menghela nafas panjang, mengumpulkan kekuatan untuk bicara. "Bodo amatlah. Kenapa kita harus ke Bandung?" Bandung. Kota kenangan.

"Tau. Wenny yang nyuruh. Lagian, lumayanlah. Banyak cewek, ada tempat dugem. hahahaha...."

Sepertinya Ken udah nggak tahan. Jadi semua pengorbanannya selama ini hanya...?

"LO--KITA EMANG HARUS KE BANDUNG? LO MAU NYIKSA GUE? GUE LAGI YANG HARUS BAYARIN ELO! Kalo diliat, gue dah pindah kerjaan berapa kali, hah? Gue dah pernah kerja di Bondi Beach segala, lagi! Sekarang, gue dah lumayan kerja di Circular Quay, lo suruh gue pindah! CUMA BUAT BIAYAIN COWOK BRENGSEK KAYAK ELO!!!" Ken tersengal, menatap James tajam. Dilihatnya James mengepalkan tinjunya.

"Gue bahkan belom bayar kematian Alenia! Pada orang yang udah bikin dia mati!!" Ken menghela nafas panjang-panjang, lalu menghembuskannya.

"Hahahaha.... Hahahaha.... Lo konyol.... Gue bilangin, LO BEGO!!!!! Hahaha... No words anymore! Lusa, kita udah berangkat. tapi ke Jakarta dulu, baru ke Bandung. Pulang ke rumah kita." Setelah itu James menenggak kopinya sampai habis, lalu pergi ke kamarnya. Ken mengepalkan tangannya dan refleks memukul tembok.

"Sialan!"

Kenapa dia harus kembali ke kota itu? Ke rumahnya. Melihat kembali kenangan-kenangan yang tertempel di jendela yang basah....

Glazed over eyes that don't work anymore,
it's not like they can see a thing now
The dark world is motionless
Everything's gone....**




*diambil dari lirik lagu terjemahan Umineko no Naku Koro Ni by Akiko Shikata*
**diambil dari lirik lagu terjemahan Soundless Voice by Valshe **

No comments:

Post a Comment