Suasana sangat gaduh di kelas dua belas, entah itu kelas XII-A, XII-B, XII-C IPS. Pokoknya pelajaran seni musik kali ini sangat membosankan. Begitulah pikiran Riya, anak XII-C IPS. Riya memutuskan untuk mengambil jurusan IPS, karena dia sudah ada rencana untuk mengambil psikologi untuk kuliahnya. Jadi, ngapain juga kan, capek-capek ngambil jurusan IPA? Udah mati duluan kali dia pas dikasih tugas penelitian. Amit-amit deh. Ada juga sih senior-senior-nya yang ngambil jurusan IPA, eh, belakangnya malah ngambil musik. Tapi katanya jalan pikirnya jadi sistematis. Uh. Riya nggak usah capek-capek ngambil jurusan IPA supaya jalan pikirnya jadi sistematis; dia cukup belajar aja dari buku-buku psikologi di perpustakaan gimana caranya untuk berpikir secara sistematis juga analitis. Gampang, kan? Just a piece of cake! Menurut Riya, bego sekali orang-orang masuk IPA, tapi rencana ke depannya bukan yang berhubungan dengan IPA. Kadang masuk ke jurusan IPA supaya bisa sekelas sama cowok atau cewek yang ditaksirnya. Beh!
“Sumpah lho, harusnya tadi gue bawa bantal dulu sebelum masuk ke pelajaran seni musik kali ini,” bisik Riya pada teman di belakangnya—Ferya. Ferya berpendapat yang sama.
“Ya udah, kalau gitu besok-besok bawa bantal ya. Jangan lupa bawain buat gue!”
“Enak aja!!! Bawa sendiri dong! Jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan. Eh, kayaknya bukan kesempitan juga. Kesempatan juga. Ehh… Ah, gue jadi pusing sendiri.”
“Orang gila.” Ferya hanya sanggup ngomong begitu. Riya kadang-kadang bisa kumat gilanya. Tapi kalau masalah nyanyi, jangan tanya. Riya jagonya. Riya emang punya bakat terpendam yang diturunkan dari orang-tua-nya dan dari buyut buyut buyut buyut buyutnya, yaitu menyanyi. Jadi mau nyanyi style apa aja pasti dia bisa. Mirip ventriloquist, gitu. Bisa suara apa saja.
“Hari ini, Ibu akan memberi kalian semua tugas. Untuk kelas IPS saja. Untuk seni musik kali ini, kalian harus membuat sebuah pagelaran atau concert. Terserah mau untuk tarik suara, menari, drama, atau bermain musik saja. Kelompoknya sudah ibu tempel di mading. Juga untuk temanya. Oke, sekarang kalian sudah boleh istirahat.”
“Haduuuhhh, ada tugas lagi. Ngomong-ngomong gue di kelompok mana, ya?” tanya Riya penasaran, seperti ngomong sendiri. Dia keluar sambil kebingungan sendiri. Tiba-tiba punggungnya ditepuk sedemikian rupa hingga Riya meringis. “HEH! Jangan asal pukul—yaaahh… elo, Randy. Gue kira siapa gitu.”
“Udah ah. Liat yuk, kita di kelompok mana,” jawab Randy sambil terus berjalan menuju papan mading yang dikerubungi banyak siswa-siswi. Riya mendelik ngeri.
“Kita? Ge-er banget lo, kayak kita mau sekelompok aja. Lagian, gue dah’ kapok deh sekelompok sama lo.”
“Masa sih kapok? Kenapa?” tanya Randy dengan muka inosen. Riya jinjit dan menggetok kepala Randy keras. Randy jadi meringis. Riya itu mirip Finny di komik Black Butler—kecil-kecil punya tenaga kuda. Tenaganya gede dalam ukuran cewek. Maklum, penyanyi sih. Jadi power-nya gede. Tapi nggak tentu juga, sih.
“Yeah right. Pake nanya segala lagi. IQ lo berapa?”
“Nggak tau. Emangnya IQ lo berapa?” tanya Randy balik. Riya dengan ekspresi datar cuma ngejawab, “Nggak tau juga. Lupa. Hehe…” Riya nyengir akhirnya. Sekarang Randy jadi pengen nge-getok Riya sebagai revenge perbuatan cewek itu padanya tadi. Terpaksa sekali Randy dan Riya berjalan ke kantin, bukannya nyari namanya di kelompok mana. Abis, daripada kegencet di lautan manusia begitu? Mending liatnya entar aja deh, pas pulang sekolah atau istirahat selanjutnya—istirahat habis pelajaran Geografi yang membosankan.
Riya dan Randy masih sempet berantem juga di kantin—siapa yang traktirin siapa. Siswa-siswi lainnya sudah biasa mendapati pemandangan seperti ini. Secara, Riya dan Randy sudah bersahabat sejak mereka TK! Orang tua mereka juga saling kenal. Apalagi Riya dan Randy tetanggaan. Mantep banget kan, dan wajar aja kan kalau mereka sahabatan. Tapi Riya paling sebel kalau nyokapnya dah bilang gini, “Eh, mau nggak, mama comblangin sama si Randy, anaknya Tante Sri?” Riya pasti langsung menjawab “NGGAK” gede-gede sampe mulutnya mangap lebar banget kayak buaya. Kan aneh gitu kalau mendapati sahabat sekaligus pacar. Aneh tahu.
Pulang sekolahnya, baru mereka liat papan mading yang sudah sepi—malahan kosong melompong. Bodoh sekali. Kenapa harus rela gencet-gencetan begitu kalau pas pulang sekolah kondisinya kosong melompong begini.
Rasanya dunia kebalik aja. Bukan, bukan karena Randy sekelompok sama Riya, tapii… style musiknya itu lho. Riya dapat kelompok satu, sekelompok dengan Nessa, Risha, Meiya, dan kawan-kawan. Bukan, bukan masalah temen sekelompoknya juga. Malahan Riya temenan baik juga kok sama anggota kelompoknya. Tapi yang jadi masalah, mereka harus menampilkan pagelaran KERONCONG! Ya, keroncong! Musik Indonesia yang jadul itu lho!!! Yang suka tampil di TVRI itu, dan biasanya yang nonton nenek-nenek yang dulu pernah hidup di zaman penjajahan Spanyol atau Belanda. Yang bisa buat Riya terlelap, biar kata baru sedetik aja nonton. Bosen abisss!!!! Sedangkan Randy jingkrak-jingkrak di sebelahnya (bukan hanya karena sekelompok sama si doi).
“Yo, my best buddy, gue dapet style musik country modern lho. Sip deh kalau udah sekelompok sama Farrel. Dia jago buat lirik lagu dan jago maen gitar. Sip sip sip, deh. Eh, buddy, lo kok kayaknya suntuk banget?” Randy menatap Riya sambil mengernyit bingung.
“Ya iya lo enak! Lo dapetnya yang modern!!! Gue? Gue dapet musik keroncong!” Riya merengut sambil melipat tangannya di dada. Dia sudah menyiapkan iman, batin dan jiwa—siap-siap diketawain sama Randy. Dan benar saja, tawa Randy meledak.
“HAHAHAHA…!!! Muka lo nggak usah gitu kaleee!!! Biasa ajaaa!!! Eh, lo kalau mau tanya-tanya, tanya gih ke pembantu gue. Dia sering nonton keroncong di TVRI—“
“SIALAN!!! Lo enak dapet begituan!! Gue? Iye, walaupun kita dulu pernah diajarin musik tradisional, tapi kan susah nyanyi keroncong! Udah gitu cuma kelompok gue yang dapetnya tradisional-jadoel kayak gini! Yang lain ada rap, rock, jazz, country… gue? Keroncong!!!” Riya tambah manyun. Randy menepuk-nepuk kepala Riya lembut.
“Udahlah, cheer-up dong. Yuk ah, kita pulang aja. Kali ini gue deh yang traktirin angkotnya.”
“Eh, itu mah gue juga bisa bayar sendiri!!! Traktirin gue makan bakso atau siomay kek?! Ini malah bayar angkot yang cuma seribu-dua ribu!!!”
“Masih bagus gue mau traktirin!!!”
“Udah deh, jalan kaki aja pulangnya!!!” Riya lagi bad-mood. Mood-nya lagi meledak-ledak kayak kembang api di tahun baru. Randy udah biasa mendapati kondisi Riya yang ‘seperti ini’. Jadi ya dia malah semakin tertarik buat menggoda cewek itu.
“Beneran? Nggak takut gempor?”
“RANDYY!!!!!!!!”
****
Kakak Riya—Arum adalah seorang ‘Indonesia’ sejati. Dia sangat suka nonton wayang di TVRI, nonton pagelaran-pagelaran yang kadang diadakan di Taman Ismail Marzuki, atau apalah itu. Berbeda dengan Riya yang lebih suka nonton Castle di Starworld atau nonton konser band-band luar negeri di tempat yang lebih oke dan tentu saja, lebih modern.
“Eh, Riya. Udah pulang, toh. Nih, makan dulu.” Arum tersenyum—senyum Kak Arum selalu bisa membuat cowok-cowok keleyengan. Bahkan Riya aja keleyengan. Kak Arum itu Jawa sejati deh. Logatnya kadang bisa jadi Jawa sekali, kadang enggak. Bodi Kak Arum juga oke banget, apalagi kalau ke pesta senengnya pake kebaya. Pasti lekuk pinggangnya kelihatan sekali, jadi terlihat seksi. Terus tutur katanya lembut, orangnya ramah, rendah hati dan murah hati. She’s totally almost perfect, pikir Riya. Hanya saja, menurut Riya, Kak Arum agak kolot orangnya. Liat aja kamarnya yang mirip kamar Jawa itu. Ukiran-ukirannya juga wayang, hiasan-hiasannya juga Jawa banget—macam tempelan angklung atau sebagainya. Musik-musiknya juga. Lengkap. Dari dangdut, musik Sunda, sampai keroncong—
“Lho? Mukamu kenapa? Lagi capek banget ya?” Nah, mulai deh. Jawa Kak Arum kental banget kalau kayak begini. Riya hanya mengangguk.
“Iya capek banget. Aslinya sih, gue lagi bingung.” Riya menjawab dengan jujur. Bagaimanapun, Arum adalah kakaknya, dan Riya tetap menyayanginya. Mereka curhat berdua, pokoknya dari patah hati sampai patah teman. Mereka kadang suka tidur bareng, denger musik bareng, kecuali nonton konser bareng. Style mereka kan beda jauh.
“Ya sudah. Makan dulu deh, kita ngobrol di kamar kamu aja.” Kak Arum tersenyum, lalu pergi ke kamarnya. Riya hanya mengangguk lemah. Setelah makan, mereka berdua sudah duduk di kasur Riya.
“Lalu? Kenapa?”
“Gini lho… di sekolah, kita dapet untuk bikin acara atau konser atau semacam gitulah. Style musik tiap kelompok beda. Dan, parahnya cuma kelompok gue aja yang dapetnya musik tradisional Indonesia—keroncong.”
“Terus, kenapa bingung segala?” tanya Kak Arum penasaran. Riya mendesah gelisah. “Iya bingung. Bingung nyanyinya juga, bingung bikin dekor pagelarannya.” Riya mendesah gelisah untuk kedua kalinya. Arum menyentuh bahu Riya perlahan.
“Nggak usah bingung. Kak Arum pasti bantu.” Kakaknya itu tersenyum, membuat hati Riya sedikit tenang. Kalau Kak Arum sudah bantu, pasti biasanya hasilnya bagus. Karena Kak Arum termasuk orang yang perfeksionis. Tapi beda dengan orang perfeksionis lainnya yang biasanya galak, kalau Kak Arum ini halus dan lembut banget.
“Riya bingung, Kak. Gue takut dibilang jadul, gue takut dibilang kolot.” Riya akhirnya memutuskan untuk berbicara jujur saja, daripada ada salah paham, kan? Wajah Kak Arum berubah ekspresi—jadi ekspresi kasihan.
“Kenapa harus malu?”
“Karena… karena…” Riya rehat sejenak, menyusun kata-kata di kepalanya, “karena musik keroncong itu jadoel banget. Yang lain dapetnya kan’ musik-musik keren macam jazz atau pop, atau rap.”
“Keroncong nggak jadul kok.” Kak Arum sengaja menekankan kata ‘nggak’. Riya jadi tertegun karenanya. “Coba sekarang jawab Kakak. Kamu ini, warga mana?”
“Ya jelaslah WNI—Warga Negara Indonesia.”
“Lalu, musik keroncong itu dari mana?” Tanya Kak Arum, seakan-akan masih ada ribuan stok pertanyaan untuk diajukan ke Riya. Riya menjawab saja sekenanya,
“Jelaslah dari Indonesia. Wong musik tradisionalnya kok.” Riya menjawab. Kak Arum tersenyum.
Dia menjentikkan jarinya sekali, membuat Riya terkejut sedikit. “Ya udah. Kalau kamu warga negara Indonesia, terus kenapa malu sama musik tradisionalnya sendiri?” Kak Arum kembali memberi penekanan pada kata ‘sendiri’. Riya terhenyak.
“Kamu tahu, musik keroncong awalnya itu dari Portugis yang dikenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu pada abad ke-16 ke Indonesia ini. Masuklah musik ini dan pertama kali dimainkan oleh para budak di Maluku. Musik keroncong dari Tugu disebut Keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk unsur Nusantara, misalnya penambahan seruling serta beberapa komponen gamelan. Sebentar saja musik ini sudah populer, bahkan sampai ke Semenanjung Malaya. Walau udah jadul, seperti yang kamu bilang, tapi musik keroncong ini masih dinikmati dari dahulu sampai sekarang.”
Riya terhenyak mendengar perkataan kakaknya. Bener juga kata Kak Arum. Gue WNI, tapi malu sama budaya sendiri. Bego banget sih gue. Apalagi gue bahkan nggak tahu sejarah musik keroncong!!! Kak Arum yang rajin mencari tahu.
“Ri, jangan pernah malu sama budaya sendiri. Itu adalah sejarah Indonesia, yang hidup dalam darah kita. Moso kamu mau menghentikannya begitu saja? Mau sama dengan gaya hidup remaja lainnya?” Kak Arum langsung ‘tembak’—to the point, membuat Riya tersadar. Walaupun jadul, itulah budayanya sendiri.
“Cobalah liat negara lain. Yah, walau mereka juga agak terpengaruh budaya luar, tapi setidaknya mereka masih melestarikan budaya dalam negeri mereka, kan? Malahan, seperti bangunan bersejarah, mereka sering merenovasinya jadi bagus dan tidak pernah dipindahkan dari tempat semula. Mereka merawat sejarah mereka dengan baik, tanpa merasa malu sama sekali. Masa mereka bisa, kita nggak bisa? Bagaimana dengan nasib negara kita?”
Riya terdiam.
“Apalagi suara kamu bagus, kan? Kak Arum saja sampai kalah. Dengan suaramu itu, kakak yakin kamu bisa beradaptasi dengan musik keroncong. Kamu bisa nyanyi keroncong. Pasti bisa. Apalagi, biasanya penyanyi keroncong itu wanita.” Kak Arum masih saja berbicara, membuat Riya tambah malu akan diri sendiri.
“Jangan ngerasa malu-lah. Kalau kamu diejek, ya jawab aja, ‘Ini kan budaya kita sendiri.’. Kalau mereka mengejek kita, berarti mereka mengejek budaya kita yang sudah kita lestarikan secara susah-payah sejak dahulu.” Kak Arum menambahkan. Riya jadi tambah mengagumi kakaknya yang bisa menyelesaikan masalah secara bijaksana.
Riya segera berdiri, tersenyum, dan menghadiahkan kakaknya sebuah pelukan erat dan hangat. “Makasih, Kak. Riya pergi ke kamar dulu. Mau online.”
“Online apaan?” tanya Kak Arum sambil nyengir jahil.
“Mau cari informasi tentang musik keroncong. Sekaligus belajar nyanyi musik keroncong secara otodidak,” ujar Riya sambil mengedipkan sebelah matanya.
****
Riya lagi asyik-asyik nonton plus belajar nyanyi dari penyanyi keroncong di internet, ketika tiba-tiba HP-nya berdering keras. “Buset! Siapa sih yang telepon? Ganggu aja!!!” Riya merengut, lalu menyambar HP-nya dengan kasar sampai charger-nya terlepas. Ups! Riya baru ingat kalau HP-nya lagi di-charge. “Halo?”
“Hei, buddy!”
“Halah, Randy, nggak usah pake buddy-buddy-an segala deh! Kenapa?”
“Woo, lagi marah ya, Bu? Gue cuma mau nanya aja sama lo.” Suara Randy berubah menjadi serius, mengundang tanda tanya besar di kepala Riya. Tiba-tiba kok suaranya jadi serius banget gitu. Biasanya Randy kan tipikal cowok Sanguinis—cowok yang senengnya bercanda dan gila-gilaan mulu.
“Iye, cepetan mau nanya apa! Gue lagi latian, tau!!!” Riya nggak sabaran. Di seberang sana Randy manyun dan pengen ninju si Riya aja.
“Sabar dikit napa sih? Lagi PMS?”
Tuh kan. Biasanya kalau cowok mendapati cewek marah-marah, pasti dikiranya lagi PMS. Riya kan’ nggak lagi PMS! Udah lewat! Uh, dasar cowok… Kalau Riya lagi PMS sekarang, pasti HP-nya udah dibanting duluan! “Mau gue PMS beneran? Gue banting lo!”
“Iya, iya, sori. Ngomong-ngomong, gue pengen nih pindah ke kelompok lo. Boleh nggak ya, kira-kira?” tanya Randy sambil menimbang-nimbang. Riya bingung banget. Nih orang tadi udah jingkrak-jingkrak kesenangan kayak orang kesetanan, sekarang malah mau pindah ke kelompok gue? Kesambet apa coba?, batin Riya bingung dalam hati.
“Eeehhh… Kenapa mau pindah lo, tiba-tiba???”
“Kayaknya gue merasa bersalah gitu. Sori ya, tadi udah ketawa gede-gede di depan lo. Padahal, artinya gue udah ngetawain budaya gue sendiri. Bodo amat lah sama country modern yang dari luar negeri itu. Gue udah mikir terlalu muluk, padahal budaya sendiri aja nggak tau. Kayaknya gue mau minta izin nih sama Bu Isa besok.” Jawab Randy panjang lebar. Riya tersenyum sendiri, hatinya terharu. Untunglah masih ada remaja yang nasionalis seperti ini. Seperti kata Kak Arum, bagaimana nasib negara ini kalau nggak ada generasi muda yang seperti ini?
“Yah boleh juga sih. Eh, ntar tanyain anak-anak yang lain deh. Kita latihan nanti. Kayaknya gue mau nyampur keroncong millenium, keroncong abadi, sama keroncong tempo dulu. Kayak musiknya grup Bondan Prakoso dan Fade 2 Black, nyampur keroncong dengan rap. Mungkin kita bisa campur keroncong yang dulu dan keroncong yang masih ada masa kini. Sepertinya seru juga ya, belajar budaya sendiri.”
Randy mengiyakan, lalu mengakhiri pembicaraan mereka di telepon. Riya tersenyum sendiri. Keroncong nggak akan termakan oleh waktu. Tetap ada sebagai sejarah budaya kita.
****
This short-story was written especially for you, guys. Selaku remaja Indonesia, mau nggak sih kita dalamin budaya kita sendiri???
Coz our country’s future is in our young hands, guys!!!